Meraih Lapangnya Hati #6: Berbuat Baik kepada Hamba Allah

0
2403

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin حفظه الله menjelaskan bahwa di antara sebab yang keenam adalah berbuat baik kepada hamba-hamba Allah

Allah ta’ala berfirman,

وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yg berbuat baik” (Al-Baqarah: 195)

Berbuat baik kepada sesama dapat dengan perbuatan yg nampak ataupun tidak nampak, baik dengan penghormatan, dengan harta, ataupun dengan nasihat ataupun yg lainnya.

Karena sesungguhnya seorang hamba yg berbuat baik kepada hamba Allah lainnya akan mendapat ganjaran dari Allah dengan lapangnya hati, dimudahkannya segala urusannya, diperbaiki urusan dan hartanya.

Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barang siapa yang meringankan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan meringankannya dari suatu kesulitan pada hari Kiamat. Barang siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim” (HR. Muslim no. 2699)

Maka orang yg menolong, memberikan bantuan, dan menutupi kebutuhan mereka merupakan diantara sebab-sebab yg besar untuk mendapatkan hati yg lapang.

Adapun seorang yg pelit dalam berbuat baik, serta sangat pelit dalam memberikan sesuatu. Maka orang tersebut merupakan orang yg sangat sempit hatinya

Nabi ﷺ membuat perumpaan terhadap orang yg seperti itu

مَثَلُ الْبَخِيلِ وَالْمُنْفِقِ كَمَثَلِ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُبَّتَانِ مِنْ حَدِيدٍ مِنْ ثُدِيِّهِمَا إِلَى تَرَاقِيهِمَا فَأَمَّا الْمُنْفِقُ فَلَا يُنْفِقُ إِلَّا سَبَغَتْ أَوْ وَفَرَتْ عَلَى جِلْدِهِ حَتَّى تُخْفِيَ بَنَانَهُ وَتَعْفُوَ أَثَرَهُ وَأَمَّا الْبَخِيلُ فَلَا يُرِيدُ أَنْ يُنْفِقَ شَيْئًا إِلَّا لَزِقَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ مَكَانَهَا فَهُوَ يُوَسِّعُهَا وَلَا تَتَّسِعُ

“Perumpamaan orang bakhil dengan orang yang pandai berinfak adalah seperti dua orang yang masing-masing mengenakan baju jubah terbuat dari besi yang hanya menutupi buah dada hingga tulang selangka keduanya. Adapun orang yang pandai berinfak, tidaklah dia berinfak melainkan bajunya akan melonggar atau menjauh dari kulitnya hingga akhirnya menutupi seluruh badannya sampai kepada ujung kakinya. Sedangkan orang yang bakhil, setiap kali ia tidak mau berinfak dengan suatu apapun, maka baju besinya akan menyempit, sehingga menempel ketat pada setiap kulitnya. Dan ketika ia mencoba untuk melonggarkannya, maka tak dapat melakukannya. (HR. Bukhori no. 1443)

Referensi
‘Asyarotu Asbaab Li-insyiroohil Shodri, cet. Maktabah Itqon, hal. 20-21

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here